Monday, April 27, 2015 0 comments

Friends With Benefit

"Gue udah di depan kosan lu nih, keluar dong.."

Ck.. aku menolak pada awalnya, kepalaku sangat berat. Namun, dia memaksaku karena ia ragu, Akhirnya aku mengiyakan permintaannya.

"Hai.. Aku D"
"A" jawabku singkat.

Kami memang baru pertama kali bertemu dan saat itu aku sedang terkena flu. Awal pertemuan kami memang agak canggung, namun ia membuka suasana dengan menawarkan film dari harddisk yang ia bawa. Karena aku sedang terkena flu, kepalaku terasa sangat berat dan aku memilih mengiyakan tawarannya sambil berbaring di kasurku. Tidak kusangka, ia malah ikut berbaring di sisiku. Aku langsung menggeser posisiku sedikit menjauh darinya. Dan kami menonton film yang diputar itu dalam diam. Seketika ia memelukku. Aku hanya diam tidak bereaksi. Namun itu kulakukan hanya dalam waktu beberapa menit hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekatkan diriku padanya dan membalas peluknya.Perlahan ia mengecup pipi dan mengusapnya dengan lembut. Aku hanya menutup mataku karena memang saat itu aku merasa tidak begitu sehat. Karena mataku yang terpejam, tanpa kusadari bibirnya mengecup bibirku, namun aku memberikan sedikit perlawanan, menandakan bahwa aku belum siap untuk kissing, apalagi dengan orang yang baru ku kenal.

Karena sudah malam, kemudian ia pamit untuk pulang ke rumahnya dan aku langsung tertidur lelap. Dan keesokan harinya kami mulai sering bertukar pesan untuk sekedar memberi kabar masing-masing.

2 Hari Setelah Pertemuan Pertama - Kosanku

"Dingin.." kataku.

"Iya tau. Ikutan dong.."

Ia sudah tidak canggung lagi, langsung ia memelukku dan aku menatap lekat matanya. Ia juga menatapku dan kembali mengecup bibirku. Kali ini tanpa perlawanan. Tangannya perlahan menuju arah tubuhku. Aku sedikit menahannya, aku tidak mau terburu-buru. Hingga pada akhirnya kubiarkan tangannya menjelajah tubuhku, menyentuh bagian tersensitifku, dan aku hanya bisa menikmatinya.

I'm still a virgin. Pikirku, dan aku memepertahankannya.

Aku mulai mencari-cari informasi tentangnya. Sosial medianya di-lock semua. Ugh.. Aku mulai kesal, namun, aku teringat sesuatu. Dari temanku, yang juga ternyata teman dekatnya, aku dapat informasi yang cukup membuat dadaku sesak. Ia sudah punya pacar, dan jadiannya pun sudah lama. Kenapa dia tidak pernah mengatakannya padaku? Kenapa dia tidak pernah cerita? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Pertanyaan yang sama yang selalu menghantui kepalaku. Sakit? Ya. Kesal? Marah? Entahlah.

Seminggu Kemudian

Aku: Boleh ku tanyakan sesuatu?

Dia: *terdiam*

Aku: Apakah kamu merasa ini sesuatu yang salah? Kamu sudah punya kekasih, but, we did wild evening, cukup sering. Dan cukup jauh. Memang tidak sejauh itu, namun..

Dia: Aku sudah mengira kamu akan menanyakan hal ini, Maaf jika aku membuatmu sakit. Aku pun dari awal tidak pernah berpikiran untuk sejauh ini. Seperti yang kamu tahu, aku dan dia pun sedang dalam hubungan yang ya kita katakan tidak cukup sehat,

Aku: Kau menjadikanku pelarian kamu?

Dia: Ah! Tidak, bukan seperti itu. Bahkan aku tidak terpikir untuk sampai situ. Hanya saja aku suka, aku senang berteman denganmu. Maaf.

Aku: Kalau kau suka berteman denganku, kenapa kamu tidak pernah cerita? Jadi aku tidak perlu penasaran dan mencari-cari informasi tentangmu dan menemukan hal yang....

Dia: Maaf. Aku hanya belum siap bererita. Aku harap ini bukan terakhir kalinya kita bertemu. Aku senang berteman denganmu. Kamu menjadi penyemangat tugas akhirku.. Makan malam yuk, nanti kuceritakan tentang diriku, semuanya.. *tersenyum*

-----------------------------------------

Disclaimer: Ditulis ulang dari sebuah cerita nyata seseorang di sebuah sosial media, dipublikasikan dengan revisi seperlunya dan menggunakan gaya tulis penulis.

Monday, April 13, 2015 0 comments

Smile

"Smiling is my favorite, you make me smile, that makes you my favorite..."

Senyum. Kegiatan yang dalam sehari bisa ratusan kali kita lakuin. Tenang, aku nggak akan bahas manfaat senyum bagi kesehatan tubuh atau berapa otot yang dipakai saat kita tersenyum. Kalian bisa liat itu di dr. Oz Indonesia. Aku sendiri suka banget senyum. Ya bukan berarti aku suka senyum-senyum sendiri tanpa alasan. Di dunia nyata, ataupun sekedar titik dua tutup kurung di dunia maya, menurutku senyum itu tampilan ekspresi paling simple yang seenggaknya bisa dilakuin untuk buat orang merasa lebih baik (sok tau :p). Kalian mungkin gak sadar kalo senyum kalian bisa berarti banyak buat orang disekitar kalian.

Entah bagaimana dengan kalian, tapi aku, saat aku melihat orang tersenyum, aku langsung mengalami apa yang dinamakan ‘Premature Ventricular Contractions’ atau 'heart skips a beat' kalo katanya Natalie Portman ke Ashton Kutcher di No Strings Attached. Dan secara otomatis, kedua ujung bibir ini langsung melengkung untuk bales senyuman itu.

The power of : Senyum. 

Aku mempercayainya. Saat aku tersenyum, aku merasa seperti mengirimkan kekuatan untuk orang yang aku senyumin. Tidak destruktif, tapi menyegarkan. Harus ku akui, aku hampir selalu jatuh cinta dengan perempuan yang pernah tersenyum padaku (playboy? iya memang. Darahku AB. Nanti ku ceritakan). Klise, tapi seperti yang kubilang sebelumnya, aku mempercayai The Power Of Senyum.  Ada pesan didalamnya, ada kekuatan didalamnya. Ada dukungan, ada harapan, ada ada aja. Yang jelas, aku suka setiap senyum yang kalian berikan.

Namun, nggak ada yang lebih aku cintai dari senyum di wajah orangtuaku. Seakan aku bisa melakukan segalanya. Termasuk terbang dengan meloncat dari atap rumahku (tentu saja tidak kulakukan. Ayolah, ini hanya kiasan!). Aku tidak pernah membayangkan jika senyuman itu hilang. Lalu senyum kalian, kalian yang selalu ada di setiap kejahatan yang pernah aku lakukan (iya biar kesannya gue ga jahat sendirian gitu.. *evil laugh* ). Tapi percayalah, aku sayang kalian dan senyuman kalian yang selalu aku tunggu setiap harinya. Hanya untuk memastikan kalian baik-baik saja.

Hingga pada akhirnya, kutemukan satu senyuman. Senyuman yang datang tak tahu waktu, senyuman paling teduh dan menyenangkan yang pernah ku lihat. Kamu.

------------------------------------
Disclaimer: Bukan tulisan saya, ini tulisan milik seseorang, dengan revisi seperlunya.

Rewrite from: payungrindu.blogspot.com
Original Writer: Aby Rifiana
Saturday, April 11, 2015 0 comments

Percaya Sama Aku



"Kenapa kamu cinta sama aku?"

Matanya yang bulat membesar, menunjukkan ekspresi ingin tahu dan jawaban yang memuaskan dariku. Aku menatapnya lekat, 

"kau yakin ingin aku menjawabnya? Bukankah cinta tidak butuh penjelasan?"

Meskipun bibir indahnya mengatup rapat, matanya yang membulat memaksaku untuk mengatakannya. Aku berguling, berbaring di sisinya. Ia memutar posisi tidurnya, miring ke arahku..

"Baiklah akan kujelaskan. Begini, aku bahkan tidak tahu apa yang membawaku padamu. Aku percaya takdir. Kita bertemu, dengan keadaan masing-masing sakit hingga tidak percaya lagi dengan cinta. Aku ingin menyembuhkan lukamu, dan kau pun telah menyembuhkan ku. Aku tidak bisa mengatakan apakah ini cinta atau bahkan lebih dari itu. Yang jelas aku mau kamu, nyata, bukan hanya dalam khayalku"

Kepalaku menengok, menatapnya. Tatapan matanya mengisyaratkan bahwa ia cukup puas dengan jawabanku. Bibir mungilnya tersenyum tipis dan sangat manis. Aku mendorongnya, mengembalikannya ke posisi terlentang dan aku diatasnya. Menatapnya dalam, tersenyum, dan mengecup keningnya, bibirnya dengan lembut, dan perlahan kubuka kancing seragam SMA-nya satu per satu. Tatapan matanya berubah, sedikit panik dan takut.

"Percaya sama aku.."

Dan kasur hotel mulai berdecit lembut seirama dengan gerakan kami.

----------------------------------------

12.04.2014 - Kamar apartemen 2712

Seorang laki-laki muda, berumur sekitar 24 tahun, memiliki kulit putih dan tinggi sekitar 182 cm dengan badan yang tidak terlalu kekar namun berbentuk, serta warna mata coklat muda, berdiri di dekat jendela, menatap ke luar kamarnya, dengan lima orang temannya, kurang lebih berumur sama dengannya, duduk di sofa dengan santai .

"Aku mendapatkannya" ucapnya sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

"buktinya?" tanya seorang temannya yang duduk tidak jauh darinya.

Ia mmemberikan dua buah kamera DSLR, "Yang satu gue setting video, yang satu lagi gue setting untuk motret setiap 1 menit sekali"

Teman-temannya mengecek isinya, tersenyum dengan puas dan memujinya.

"Sekarang sesuai perjanjian, 10 juta dari masing-masing kalian" Ucapnya sambil berjalan ke tempat sampah, membuang simcard yang baru saja ia patahkan dengan sengaja.
Wednesday, April 8, 2015 0 comments

Kursi Kosong


Source: Dokumen Pribadi
Sampe Kapan...?

"A glass of Chocolates Shake. With an empty chair"
 Tulisku di sebuah media sosial yang kupilih untuk memamerkan kesukaanku, cokelat dan membanggakan kesendirianku saat itu, di sebuah coffee shop Central Park, Jakarta. Sejujurnya aku tidak benar-benar sendirian, aku menemani ibuku bertemu dengan mitra kerjanya, namun karena aku tidak (mau) peduli dengan urusannya, aku memilih untuk berpisah meja. Orang-orang yang melintas disekitar kafe menatapku sepintas, dan orang-orang di dalam kafe beberapa kali memperhatikanku.

"Kenapa? Belum pernah liat cewek duduk sendirian di coffee shop? Huh!" dengusku dalam hati.

Sekelebat namun pasti, sebuah pertanyaan yang sangat mengganggu santaiku saat itu sampai sekarang,

"Mau sampe kapan kursi depan lo kosong terus? Udah setahun loh.."
(Damn brain! Baru sebelas bulan kok!)

Hingga akhirnya aku berpikir. Iya ya, kapan ya terakhir gue duduk berdua berhadapan, bercanda, berbicara dari hati ke hati, menggenggam masing-masing tangan, berharap untuk tidak pergi meninggalkan. Aku meraih hapeku diatas meja. Membuka salah satu aplikasi messangger dan terpaku pada satu nama,

Antoni.

Ragu, namun, "Hai.. Kamu apa kabar? Sudah lama kita tidak menikmati dua gelas kopi yang berbeda dalam satu meja. Masih sibuk?" meluncur begitu saja dari jemariku.

10 menit
30 menit
1 jam

21.19 - Angka yang kulihat di jam tangan Baby-G biru butut kesayanganku, bersamaan dengan ibuku memanggilku untuk bersiap pulang. Kembali kutatap layar handphone-ku, sepi. Tidak ada tanda pesan atau apapun yang masuk ke hapeku.

Sudahlah, peduli apa? Aku menikmati kursi depanku tetap kosong kok, pikirku saat itu, sambil beranjak dari kursi dan meninggalkan coffee shop yang mulai sepi pengunjung.


-----------

20.32 - Di sebuah kamar...

"hai.. aku baik. Kamu apa kabar? Ah iya, sudah lama ya...." Ah shit... *delete message*

"Hai.. aku baik kok, Kamu apa kabar? Dua gelas kopi? Seingatku kamu tidak pernah suka kopi. Kamu selalu memesan cokelat.... hahaha.." *terdiam lama* *delete*


*melempar hape ke sisi lain kasur* Antoni, you're an idiot. i hate you.
Monday, April 6, 2015 0 comments

Bandung Lautan Asmara

Tiba -tiba gue teringat sebuah percakapan absurd dengan seorang teman beberapa minggu yang lalu melalui sebuah messanger. (Sebenernya sih ketemu langsung, cuma kalo dikasi tau tempatnya, trus kalian tau gue anak mana trus tiba-tiba minta traktir kan males)

(demi kenyamanan bersama, kita namakan orang ini Komo)

Komo  : Res, Bandung punya stadion baru yak?
Gue     : Hah? Iyah. Baru kelar, tapi udah sempet dipake kalo gasalah. Gatau sih, gue kan gasuka nonton bola..
Komo  : Namanya apaan? Stadion Bandung?
Gue     : Bukan lah. Ga kreatif amat. Namanya GBLA. Gelora BLA
Komo  : Gelora BLA?
Gue     : Ho-oh.. Gelora Bandung Lautan Asmara
Komo  : Ooohh..

(diam sepersekian detik)

Komo  : Res, itu bukannya judul film bokep ya? Bandung Lautan Asmara?
Gue     : hah? LAUTAN API.! Gelora Bandung Lautan Api.! Hahahah! Maapin maapin!
Komo  : -___- (mungkin kira kira begini ekspresi dia) Bego.

-------------

Karena nama yang tertulis di blog ini adalah inisial namaku, ARS, maka kupanggil diriku Ares :))
Wednesday, April 1, 2015 0 comments

Cassanova

"There's No Love, only LUST"


Cassanova. Aku yakin kau sering mendengarnya dan bahkan tahu sejarahnya. Tidak? Baiklah, ku tuturkan sedikit tentangnya. Cassanova, atau Giacomo Cassanova, adalah seorang penulis, penyair, pemikir, dan tentu saja seorang petualang cinta. Petualang cinta yang seru dan penuh gairah. Ia adalah seorang perayu ulung, ia bahkan mampu menggoda biarawati asal Venesia dan beberapa perempuan bangsawan di Eropa. Namun dari yang kudengar, petualangannya berakhir dengan patah hati yang mendalam saat harus berpisah dengan wanita bersuami yang sangat dicintainya.

Baiklah, ini bukan cerita tentang Giacomo, tapi tentang aku. Aku adalah seorang Cassanova. Versi perempuan. Ya setidaknya aku (dan orang orang sekitarku) menganggap diriku seperti itu. Sejak umurku 14 tahun, aku sudah mengenal apa yang biasa disebut orang "Kekasih". Namun mereka bilang itu hanya cinta monyet, sayangnya, aku tidak pernah percaya cinta. Lebih tepatnya, aku belum mengenal cinta. Saat itu yang aku kejar hanyalah popularitas. Ya, popularitas dan reputasiku sebagai seorang anak sekolah menengah pertama yang memiliki tujuh orang kekasih, yang rata-rata berumur 17-20 tahun. Aku bukan berselingkuh, aku hanya membantu memberikan mereka kebahagiaan setelah mereka tersakiti, yang secara kebetulan bukan hanya satu orang (alasan macam apa itu?!). Walaupun mereka memang tidak bertahan lama, aku menikmatinya. 

Ya, menikmatinya. Hingga aku (menganggap diriku) beranjak dewasa, tahun terakhir di sekolah menengah atas-ku, aku menemukan seseorang. Yang kurasa melengkapi diriku sendiri, yang mampu mendukungku dan membimbingku. Bahkan orangtuaku memepercayai dia. Aku berpikir, ah, seorang pemain cinta harus berhenti. Namun ternyata sang Pemain Cinta bertemu Pemain Cinta lainnya. Tersekiti? Tidak. Hanya kesal. Then i realized that what i looking for wasn't LOVE, it was LUST, a CHECKLIST. Hahahaha.. Dari situ aku mulai tidak percaya cinta. Selama ini yang aku jalani dan percaya hanyalah Lust. Dengan siapapun itu.

Hingga akhirnya aku (merasa benar-benar) beranjak dewasa. Aku bertemu denganmu, entah jawaban dari doaku, entah cuma numpang lewat. Tapi ajaibnya kamu, belum apa-apa, namamu sudah masuk ke dalam sujud malamku, tanpa kamu sadari. Berharap kamu bisa membuatku percaya cinta. Tapi kalo kamu datang hanya untuk membuatku lebih percaya LUST, yasudah, berarti petualanganku belum berakhir. Begitu juga dengan tulisan ini,
0 comments

Switch

Sudah hampir setahun lebih aku hanya bisa memandangi laki-laki pribumi itu. Ia sangat mirip dengan kekasihku dulu, sampai aku sempat berpikir bahwa reinkarnasi benar-benar ada. Tapi, entah mengapa, ia selalu bersama gadis berambut hitam bergelombang itu. Apa yang membuat laki-laki pribumi itu tertarik pada gadis yang cuek dan galak itu? Huh! Enak sekali gadis itu, selalu didampingi laki-laki pribumi itu, sedangkan aku? Aku lebih cantik, keturunan Belanda, tapi hanya bisa memandangnya dari jendela ini. Aku ingin sekali memiliki laki-laki itu, tapi aku tidak tahu caranya. Seandainya dulu ayah tidak membunuh kekasihku, aku juga pasti tidak akan menggantung diriku di pohon Oak belakang rumahku dan menjadi hantu gentayangan seperti ini.

Aku bertemu dengan gadis itu di ruang musik. Dia cukup mahir memainkan piano yang ada di ruangan tersebut. Apakah laki-laki pribumi itu menyukainya karena ia bisa main piano? Ah, aku juga bisa. Aku juga sempat belajar piano dan sampai sekarang suka memainkannya jika sekolah ini sudah sepi. Tapi aku akui, permainan pianonya memang lebih pandai dariku.

Aku telah mendapat cara bagaimana mendapatkan laki-laki pribumi itu. Bukan, bukan membunuhnya. Tapi, aku akan bertukar tempat dengan gadis itu. Aku hanya menginginkan raganya agar aku bisa menyentuh dan hidup bersama dengan laki-laki itu. Aku mulai mengganggu gadis itu dalam mimpinya sampai ia melemah dan tidak mampu membedakan mimpi dengan kenyataan. 


"Aku selalu bermimpi buruk akhir-akhir ini. Aku takut. Seperti ada yang mengawasiku melalui cermin ketika aku tidur". Laki-laki pribumi itu pun mulai khawatir dengan keadaan gadis itu dan berusaha menenangkannya.

Hingga pada suatu saat,

"Kau terlihat riang hari ini. Semalam tidak bermimpi buruk lagi?".

 Gadis dengan rambut hitam dan bergelombang di sampingnya hanya tersenyum, memamerkan lesung pipinya yang hanya ada di sebelah kanan 

"mimpi buruk? Apa yang kau bicarakan?" sambil tertawa kecil. 

Dan aku, menikmati raga baruku yang dapat menyentuh laki-laki ini, aku menatap cermin, ada orang lain dalam pantulannya. Berambut pirang dan bermata biru tengah tersenyum penuh arti seakan mengetahui bahwa di dalam cermin itu ada pemilik tubuh yang telah diusir secara paksa.
 
;