Ck.. aku menolak pada awalnya, kepalaku sangat berat. Namun, dia memaksaku karena ia ragu, Akhirnya aku mengiyakan permintaannya.
"A" jawabku singkat.
Kami memang baru pertama kali bertemu dan saat itu aku sedang terkena flu. Awal pertemuan kami memang agak canggung, namun ia membuka suasana dengan menawarkan film dari harddisk yang ia bawa. Karena aku sedang terkena flu, kepalaku terasa sangat berat dan aku memilih mengiyakan tawarannya sambil berbaring di kasurku. Tidak kusangka, ia malah ikut berbaring di sisiku. Aku langsung menggeser posisiku sedikit menjauh darinya. Dan kami menonton film yang diputar itu dalam diam. Seketika ia memelukku. Aku hanya diam tidak bereaksi. Namun itu kulakukan hanya dalam waktu beberapa menit hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekatkan diriku padanya dan membalas peluknya.Perlahan ia mengecup pipi dan mengusapnya dengan lembut. Aku hanya menutup mataku karena memang saat itu aku merasa tidak begitu sehat. Karena mataku yang terpejam, tanpa kusadari bibirnya mengecup bibirku, namun aku memberikan sedikit perlawanan, menandakan bahwa aku belum siap untuk kissing, apalagi dengan orang yang baru ku kenal.
Karena sudah malam, kemudian ia pamit untuk pulang ke rumahnya dan aku langsung tertidur lelap. Dan keesokan harinya kami mulai sering bertukar pesan untuk sekedar memberi kabar masing-masing.
2 Hari Setelah Pertemuan Pertama - Kosanku
"Dingin.." kataku.
"Iya tau. Ikutan dong.."
Ia sudah tidak canggung lagi, langsung ia memelukku dan aku menatap lekat matanya. Ia juga menatapku dan kembali mengecup bibirku. Kali ini tanpa perlawanan. Tangannya perlahan menuju arah tubuhku. Aku sedikit menahannya, aku tidak mau terburu-buru. Hingga pada akhirnya kubiarkan tangannya menjelajah tubuhku, menyentuh bagian tersensitifku, dan aku hanya bisa menikmatinya.
I'm still a virgin. Pikirku, dan aku memepertahankannya.
Aku mulai mencari-cari informasi tentangnya. Sosial medianya di-lock semua. Ugh.. Aku mulai kesal, namun, aku teringat sesuatu. Dari temanku, yang juga ternyata teman dekatnya, aku dapat informasi yang cukup membuat dadaku sesak. Ia sudah punya pacar, dan jadiannya pun sudah lama. Kenapa dia tidak pernah mengatakannya padaku? Kenapa dia tidak pernah cerita? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Pertanyaan yang sama yang selalu menghantui kepalaku. Sakit? Ya. Kesal? Marah? Entahlah.
Seminggu Kemudian
Aku: Boleh ku tanyakan sesuatu?
Dia: *terdiam*
Aku: Apakah kamu merasa ini sesuatu yang salah? Kamu sudah punya kekasih, but, we did wild evening, cukup sering. Dan cukup jauh. Memang tidak sejauh itu, namun..
Dia: Aku sudah mengira kamu akan menanyakan hal ini, Maaf jika aku membuatmu sakit. Aku pun dari awal tidak pernah berpikiran untuk sejauh ini. Seperti yang kamu tahu, aku dan dia pun sedang dalam hubungan yang ya kita katakan tidak cukup sehat,
Aku: Kau menjadikanku pelarian kamu?
Dia: Ah! Tidak, bukan seperti itu. Bahkan aku tidak terpikir untuk sampai situ. Hanya saja aku suka, aku senang berteman denganmu. Maaf.
Aku: Kalau kau suka berteman denganku, kenapa kamu tidak pernah cerita? Jadi aku tidak perlu penasaran dan mencari-cari informasi tentangmu dan menemukan hal yang....
Dia: Maaf. Aku hanya belum siap bererita. Aku harap ini bukan terakhir kalinya kita bertemu. Aku senang berteman denganmu. Kamu menjadi penyemangat tugas akhirku.. Makan malam yuk, nanti kuceritakan tentang diriku, semuanya.. *tersenyum*
-----------------------------------------
Disclaimer: Ditulis ulang dari sebuah cerita nyata seseorang di sebuah sosial media, dipublikasikan dengan revisi seperlunya dan menggunakan gaya tulis penulis.


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact