Wednesday, April 1, 2015

Switch

Sudah hampir setahun lebih aku hanya bisa memandangi laki-laki pribumi itu. Ia sangat mirip dengan kekasihku dulu, sampai aku sempat berpikir bahwa reinkarnasi benar-benar ada. Tapi, entah mengapa, ia selalu bersama gadis berambut hitam bergelombang itu. Apa yang membuat laki-laki pribumi itu tertarik pada gadis yang cuek dan galak itu? Huh! Enak sekali gadis itu, selalu didampingi laki-laki pribumi itu, sedangkan aku? Aku lebih cantik, keturunan Belanda, tapi hanya bisa memandangnya dari jendela ini. Aku ingin sekali memiliki laki-laki itu, tapi aku tidak tahu caranya. Seandainya dulu ayah tidak membunuh kekasihku, aku juga pasti tidak akan menggantung diriku di pohon Oak belakang rumahku dan menjadi hantu gentayangan seperti ini.

Aku bertemu dengan gadis itu di ruang musik. Dia cukup mahir memainkan piano yang ada di ruangan tersebut. Apakah laki-laki pribumi itu menyukainya karena ia bisa main piano? Ah, aku juga bisa. Aku juga sempat belajar piano dan sampai sekarang suka memainkannya jika sekolah ini sudah sepi. Tapi aku akui, permainan pianonya memang lebih pandai dariku.

Aku telah mendapat cara bagaimana mendapatkan laki-laki pribumi itu. Bukan, bukan membunuhnya. Tapi, aku akan bertukar tempat dengan gadis itu. Aku hanya menginginkan raganya agar aku bisa menyentuh dan hidup bersama dengan laki-laki itu. Aku mulai mengganggu gadis itu dalam mimpinya sampai ia melemah dan tidak mampu membedakan mimpi dengan kenyataan. 


"Aku selalu bermimpi buruk akhir-akhir ini. Aku takut. Seperti ada yang mengawasiku melalui cermin ketika aku tidur". Laki-laki pribumi itu pun mulai khawatir dengan keadaan gadis itu dan berusaha menenangkannya.

Hingga pada suatu saat,

"Kau terlihat riang hari ini. Semalam tidak bermimpi buruk lagi?".

 Gadis dengan rambut hitam dan bergelombang di sampingnya hanya tersenyum, memamerkan lesung pipinya yang hanya ada di sebelah kanan 

"mimpi buruk? Apa yang kau bicarakan?" sambil tertawa kecil. 

Dan aku, menikmati raga baruku yang dapat menyentuh laki-laki ini, aku menatap cermin, ada orang lain dalam pantulannya. Berambut pirang dan bermata biru tengah tersenyum penuh arti seakan mengetahui bahwa di dalam cermin itu ada pemilik tubuh yang telah diusir secara paksa.

0 comments:

Post a Comment

 
;