Wednesday, April 1, 2015

Cassanova

"There's No Love, only LUST"


Cassanova. Aku yakin kau sering mendengarnya dan bahkan tahu sejarahnya. Tidak? Baiklah, ku tuturkan sedikit tentangnya. Cassanova, atau Giacomo Cassanova, adalah seorang penulis, penyair, pemikir, dan tentu saja seorang petualang cinta. Petualang cinta yang seru dan penuh gairah. Ia adalah seorang perayu ulung, ia bahkan mampu menggoda biarawati asal Venesia dan beberapa perempuan bangsawan di Eropa. Namun dari yang kudengar, petualangannya berakhir dengan patah hati yang mendalam saat harus berpisah dengan wanita bersuami yang sangat dicintainya.

Baiklah, ini bukan cerita tentang Giacomo, tapi tentang aku. Aku adalah seorang Cassanova. Versi perempuan. Ya setidaknya aku (dan orang orang sekitarku) menganggap diriku seperti itu. Sejak umurku 14 tahun, aku sudah mengenal apa yang biasa disebut orang "Kekasih". Namun mereka bilang itu hanya cinta monyet, sayangnya, aku tidak pernah percaya cinta. Lebih tepatnya, aku belum mengenal cinta. Saat itu yang aku kejar hanyalah popularitas. Ya, popularitas dan reputasiku sebagai seorang anak sekolah menengah pertama yang memiliki tujuh orang kekasih, yang rata-rata berumur 17-20 tahun. Aku bukan berselingkuh, aku hanya membantu memberikan mereka kebahagiaan setelah mereka tersakiti, yang secara kebetulan bukan hanya satu orang (alasan macam apa itu?!). Walaupun mereka memang tidak bertahan lama, aku menikmatinya. 

Ya, menikmatinya. Hingga aku (menganggap diriku) beranjak dewasa, tahun terakhir di sekolah menengah atas-ku, aku menemukan seseorang. Yang kurasa melengkapi diriku sendiri, yang mampu mendukungku dan membimbingku. Bahkan orangtuaku memepercayai dia. Aku berpikir, ah, seorang pemain cinta harus berhenti. Namun ternyata sang Pemain Cinta bertemu Pemain Cinta lainnya. Tersekiti? Tidak. Hanya kesal. Then i realized that what i looking for wasn't LOVE, it was LUST, a CHECKLIST. Hahahaha.. Dari situ aku mulai tidak percaya cinta. Selama ini yang aku jalani dan percaya hanyalah Lust. Dengan siapapun itu.

Hingga akhirnya aku (merasa benar-benar) beranjak dewasa. Aku bertemu denganmu, entah jawaban dari doaku, entah cuma numpang lewat. Tapi ajaibnya kamu, belum apa-apa, namamu sudah masuk ke dalam sujud malamku, tanpa kamu sadari. Berharap kamu bisa membuatku percaya cinta. Tapi kalo kamu datang hanya untuk membuatku lebih percaya LUST, yasudah, berarti petualanganku belum berakhir. Begitu juga dengan tulisan ini,

0 comments:

Post a Comment

 
;