Hai.. Akhirnya nulis lagi setelah sekian lama. Tulisan terakhir tentang kantorku dibubarkan dan aku terpisah dari teman-teman seperjuanganku.
Kali ini, aku mau nulis cerita yang luar biasa menghancurkan hidupku. Aku kehilangan anak pertamaku.
Akhir bulan Mei 2022, aku positif hamil, dibuktikan dengan hasil testpack yang menunjukkan 2 garis merah, dan hasil USG bahwa ada makhluk yg berdetak di dalam rahimku. Senang, panik, terharu, semuanya campur aduk. Aku dan suamiku memang mengharapkan ini setelah 1.5 tahun pernikahan kami. Suamiku jelas menjagaku dengan luar biasa agar aku tidak kecapekan, tidak stres; ia juga tidak pernah absen menyapa janin yang ada di dalam perutku sepulang ia kerja dan selalu mengelus perutku sebelum tidur.
Tapi aku, dengan ketakutanku akan cibiran orang "halah hamil gitu aja masa lemah, dikit-dikit istirahat, manja nggak mau ngapa-ngapain", memforsir diriku untuk berkegiatan seperti biasa. Trimester awal dan pertengahan kehamilanku sangat menyenangkan, tidak ada rasa mual, semua makanan bisa kumakan. Sampai akhirnya, di bulan ke-6 kehamilanku, aku dinyatakan terkena preeklamsia berat karena tekanan darahku yang tinggi, ternyata aku terinfeksi covid-19 yang beberapa hari sebelumnya membuatku sulit tidur karena batuk dan hidung mampet. Akhirnya aku harus dirawat di rumah sakit selama 5 hari dan mengikhlaskan diriku ditusuk jarum infus kanan kiri untuk dimasukkan obat penguat paru untuk bayiku, berjaga-jaga jika bayiku harus dilahirkan saat itu juga.
Untungnya keadaanku masih aman dan akhirnya diperbolehkan pulang dengan syarat sudah mulai kontrol 2 minggu 1x.
Setelah rawat inap, aku kembali kontrol ke dokter, beberapa kali kontrol, dokter mengkhawatirkan berat badan bayiku yang tidak sesuai dengan umur kehamilan. Bayiku kecil. Saat itulah aku memaksa diriku untuk lebih banyak makan protein, bahkan minum susu protein untuk binaragawan, demi perkembangan bb bayiku. Tapi nihil, usahaku tidak berpengaruh banyak terhadap kenaikan bb bayiku. Hingga pada akhirnya, dokter menemukan bahwa aliran darah dari plasenta ke bayiku tidak maksimal, dokter menyatakan bahwa bayiku brain sparring dan ditambah keadaan preeklamsia ku, bayiku harus segera dilahirkan.
Stres luar biasa jelas, tapi aku harus tetap berpura-pura tenang dan mengatakan pada diriku dan bayiku bahwa kami akan baik-baik saja.
Tiba harinya saat aku harus menjalani operasi sesar untuk melahirkan bayiku yang masih berumur 7 bulan menuju 8 bulan. Bayiku lahir pada tanggal 26 November 2022 sekitar pukul 8 pagi dengan tangisan yang sangat kencang, kuberikan ia nama AMBAR KUSUMA RENJANA yang artinya Bunga yang Harum dan memiliki keinginan hati yang kuat. Setelah lahir, dokter anak langsung membawanya ke ruang NICU, disusul oleh ayahnya yang harus mengurus berkas-berkas persetujuan tindakan terhadap Ambar.
Monday, February 20, 2023
Duniaku Hancur (1)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment