"Aku menulis ini sambil mengingat segala kenangan indah tentang kita yang telah kita lewati bersama.."
Hari ini seharusnya menjadi tanggal 18 yang ke-3 bagi aku dan dia. Tapi waktu dan keadaan merubah segalanya. Waktu dan keadaan mengambil cinta kami sehingga aku harus kehilangannya. Tidak sepenuhnya, dia masih ada untukku, masih bersamaku. Entah apa namanya, teman, sahabat, yang aku tahu, aku kehilangan dia.
Agama. Sebuah alasan yang sangat klise dan sepele untuk aku harus kehilangan kebahagiaanku. Tuhan hanya satu, benar kan? Tapi kenapa kita harus ‘berbeda’ sehingga perbedaan itu menjadi tembok besar penghalang kebahagiaan kami? Hingga akhirnya kami hanya memiliki tiga pilihan, aku mengorbankan keluargaku dan pindah ke agama dia, dia mengorbankan keluarganya dan pindah ke agamaku, atau kebahagiaan ini yang harus kami korbankan. Hingga pada akhirnya kami harus memilih pilihan terakhir. Kalung mutiara yang telah kami untai setengahnya harus terhenti. Tapi untaian itu masih rapi. Sangat rapi. Sehingga sulit bagiku untuk merusaknya. Ingin aku lanjutkan menguntai kalung mutiara indah itu, tapi tali panjang yang menjadi tumpuannya telah terputus. Dan pilihan yang aku punya adalah, menyimpan untaian tersebut di tempat yang paling indah. Di tempat dimana aku bisa tersenyum melihat keindahannya, dan menangis karena untaian tersebut tidak selesai.
Tidakkah kami diberi kesempatan untuk melanjutkan menguntai kalung mutiara tersebut sampai selesai sehingga menjadi sebuah kalung mutiara yang indah sehingga kami tetap memandangnya bahagia.?

0 comments:
Post a Comment