Monday, February 24, 2014

Bidadari Diatas Kursi Roda

Ah, gadis itu lagi. Senyum manisnya tidak pernah hilang sedetik pun dari wajah cantiknya. Gadis itu terus berceloteh dan bercanda dengan sahabat-sahabatnya yang berdiri, berjalan disekitarnya. Aku menatapnya dari kejauhan, dan ia berjalan ke arahku. Ketika ia berpapasan denganku, ‘OMNOOMM..!!” sapanya bersemangat, dan lagi-lagi tanpa menghilangkan garis bibir yang manis dari wajahnya. Aku hanya mengatakan hai sambil tersenyum serta melambaikan tanganku. 

Gadis itu sangat cantik. Dengan jilbab yang dikenakannya, menambah kesempurnaannya menjadi seorang gadis muslimah.. Aku cukup mengenalnya. Kami pernah bekerja bersama-sama saat melaksanakan suatu kegiatan. Yang membuatnya berbeda adalah Ia duduk di kursi roda karena ada sesuatu hal yang membuatnya untuk tidak boleh banyak bergerak sementara waktu tetapi, senyum manis wajahnya, tawa riangnya, dan celotehan lucunya tidak pernah lepas dari dirinya. Aku minder. Seorang gadis dengan kursi roda masih mampu tertawa lepas, dimana gadis lainnya memilih untuk tidak masuk kuliah karena di wajahnya tumbuh satu buah jerawat kecil. Aku memandangnya dari jauh, dan aku merasa menciut saat itu, Merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan gadis itu.

Aku yakin teman-temanku juga akan seperti teman-temannya yang membantu gadis itu saat sedang kesulitan. Yang tidak mampu aku yakini dari diriku adalah, aku dapat tersenyum dan tertawa riang di kondisi seperti itu. Bahkan mungkin, aku memutuskan untuk cuti kuliah sampai aku benar-benar bisa berlarian sesuka hatiku. Saat SMA saja, ketika kakiku keseleo, aku tidak masuk sekolah seminggu. Tapi gadis itu.. Dia tidak peduli jika harus memakai kursi roda ke kampus. Dia tetap mengejar apa yang ia cita-citakan, tetap tersenyum dan tertawa riang.

Aku memandangnya dari jauh dan tersenyum, dalam hati mengatakan “hey, aku sangat bangga bisa mengenalmu”. :)

0 comments:

Post a Comment

 
;