Thursday, August 27, 2015 0 comments

Gaze

"Stay a while, I’m gazing the way you move.."

1.77 km, 21'52".

           Angka itulah yang kulihat di aplikasi running counter ku. Aku memang tidak terlalu termotivasi untuk jogging saat itu, jadi lariku cenderung cukup santai. Seperti biasa, aku tidak terlalu memperhatikan sekitarku ketika aku sedang jogging. Aku hanya terfokus pada diriku dan musik penyemangat yang selalu aku dengarkan saat aku jogging. Namun ada yang berbeda untuk pagi ini, pandanganku sedikit terganggu dengan seorang cewek yang sedari tadi berlari bolak-balik di dekatku. Sesaat aku memperhatikannya dari belakang saat ia berlari melewatiku, namun kembali kulempar pandanganku ke arah lain dan kembali terfokus pada diriku dan musik yang kudengarkan. Ketika aku merasa pagi itu aku sudah cukup berolahraga, maka kuputuskan untuk pulang. 


Minggu, 12 Juli 2015 - 07.15.

         Tidak seperti kemarin, jogging track hari ini lumayan ramai. Banyak remaja, orangtua, dan anak-anak yang memilih untuk berolahraga disini. Beberapa diantaranya jogging sambil mendengarkan musik sepertiku, para orangtua memilih untuk berjalan diatas batu-batu yang sengaja disusun untuk refleksi kaki, dan beberapa anak-anak memilih untuk berjalan-jalan bersama teman-temannya atau sekedar duduk-duduk dan bersenda gurau. Ketika aku sedang asik berlari, tanpa sengaja mataku menatap sesorang. Ya, cewek itu. Ia sedang berlari ke arahku, namu di sisi yang bersebrangan dariku. Matanya terfokus ke depan dan terlihat earphone yang terpasang di telinganya. Ada sesuatu yang menyerangku saat aku tidak sengaja menatap wajahnya. Tidak bisa aku deskripsikan. Kalau kata film Hotel Transylvania, aku mengalami apa yang dinamakan "Zing!". Aku masih memikirkan apa yang baru saja terjadi dan yang aku rasakan, sampai dengan tidak sadar aku hampir menabrak anak kecil yang sedang mengayuh sepeda roda tiganya.

            Ketika aku memutar balik arah di ujung track, kulihat ia juga memutar arah di sisi ujung yang berlawanan. Aku kembali berpapasan dengannya dan kali ini benar-benar memperhatikan wajahnya. Matanya cukup tajam namun terlihat bersahabat, kulitnya tidak terlalu putih, namun juga tidak terlalu hitam. Tipikal gadis Indonesia pada umumnya. Rambutnya yang hitam dan tidak terlalu panjang dikuncir kuda. Pipinya tembem, mengikuti postur tubuhnya yang juga agak gemuk. Tanpa sadar aku tersenyum kecil. Lucu juga..

              Hari-hariku di kantor terasa sangat lama. Aku sangat menantikan hadirnya hari Sabtu dan Minggu. Selain karena libur, juga karena cewek itu. Aku penasaran dengannya. Terkadang ketika aku sedang tidak terlalu sibuk, sambil mendengarkan lagu, sekilas terjadi flashback dalam otakku. Terbayang wajahnya saat itu, rambut kuncir kudanya, jaket biru gelap yang dikenakannya. Dalam hati aku mulai bertanya-tanya siapa namanya, dimana tempat tinggalnya. Sial..! Apaan sih ini? Umpatku dalam hati. Aku benar-benar penasaran dan berpikir untuk memberanikan diri menyapanya akhir minggu nanti. Atau minimal tersenyum padanya.

Sabtu, 18 Juli 2015 - 06.22

             Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Dengan semangat aku mempersiapkan diriku untuk kembali jogging di tempat biasa dan berharap bertemu dengan cewek itu lagi. Selama perjalanan menuju kesana, aku sudah membayangkan wajahnya, lalu mempersiapkan apa yang harus kulakukan dan kukatakan padanya. Sesampainya di jogging track, aku memperhatikan sekitar. Belum terlihat tanda-tanda kehadiran cewek itu. Sambil pemanasan dan berlari santai, mataku dengan awas dan detail memperhatikan sekitar kalau-kalau cewek itu datang.

15 menit
30 menit
1 jam

               Waktu terasa begitu lama bagiku untuk menunggu kehadiran cewek itu. 08.12, angka yang kulihat di jam tanganku. Sudah jam segini, dia nggak mungkin datang.. pikirku. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang dengan perasaan yang sangat kecewa. Aku mulai menerka-nerka mengapa cewek itu tidak datang dan memutuskan untuk kembali keesokan harinya, dengan harapan yang sama.
              Hari Minggu seperti biasanya, jogging track ini selalu ramai. Namun tidak sulit untuk dapat menangkap kehadirannya. Wajahnya, gerak-geriknya, pasti dengan mudah dan cepat menarik perhatianku. Namun tetap saja, hari ini dia tidak datang lagi. Sudah entah berapa kali aku kelilingi jogging track ini berharap untuk bertemu lagi dengan cewek itu. Hasilnya sama seperti kemarin, Nihil. Ia tidak datang. 

           Aku sedikit lesu menjalani hari-hari kerjaku. Sedikit terbesit pikiran tentang cewek itu. matanya yang tajam namun bersahabat, rambut hitamnya yang dikuncir kuda. Jelas tergambar bahwa ia cewek yang cukup berbeda dengan cewek-cewek pada umumnya yang menjadikan olahraga pagi menjadi ajang pamer di sosial medianya, tapi dia, dia benar-benar terfokus pada kegiatan larinya. Ritmenya yang tepat dan matanya yang terfokus cukup menunjukkan bahwa ia sedang tidak gaya-gayaan. Mungkin kemarin dia cuma iseng jogging disitu.. dan aku memutuskan untuk menyerah.      

Sabtu, 1 Agustus 2015 - 06.43. 
                 
           Aku bolos satu akhir minggu untuk jogging, selain karena minggu lalu aku sedang tidak bersemangat untuk jogging, aku juga ada acara dengan teman-teman kantorku. Jadi aku baru bisa melanjutkan jogging lagi hari ini. Aku berangkat dari rumahku dengan perasaan biasa saja, dan memulai jogging seperti sebelum-sebelumnya, tidak memperhatikan sekitarku, fokus pada kegiatan dan musik yang kudengarkan. Beberapa menit setelah aku jogging, tanpa sengaja mataku menangkap gerak-gerik yang sangat kuhafal. Cewek itu! , teriakku dalam hati. Aku panik. Ritme lariku berantakan. Jantungku jelas berdegup dengan kencang. Aku menghentikan langkahku dan menengok ke arahnya, ia memutar arah untuk berlari menuju arahku. Aku pun melakukan hal yang sama, aku langsung memutar arah dan berharap untuk berpapasan dengannya. Aku mencoba berpikir cepat di otakku untuk memberikan perintah pada tubuhku melakukan sesuatu. Ketika ia sudah berlari cukup dekat ke arahku, aku menatapnya dan tersenyum padanya. Eh, tadi dia liat nggak ya aku senyum ke dia? tanyaku pada diri sendiri. Berbagai pertanyaan mulai berkecamuk dalam otak dan hatiku, terutama mengenai apa yang kulakukan tadi. Aku kembali memutar arah ketika melihatnya juga memutar arah. Kali ini aku menatapnya dari jauh cukup lama dan ketika kami berpapasan, aku tersenyum kembali padanya. Ia melirikku!!! Jeritku dalam hati. Entah itu benar terjadi, atau hanya khayalanku, namun aku benar-benar melihat bola matanya bergerak ke arahku saat aku tersenyum kepadanya. Aku kegirangan, sepanjang lari pun aku tidak berhenti menahan senyum. Di ujung track, aku memutar arah, loh? kok nggak ada? Aku mulai scanning jogging track itu perlahan. Cewek itu menghilang. Lalu aku menengok ke arah jam tanganku, 08.53. Pantesan.. Hihihi.. Aku berusaha keras untuk menahan senyum selama perjalanan pulang. Aku senang..!!

Minggu, 2 Agustus 2015 - 07.03
            Aku bangun agak terlambat hari ini. Pasti gara-gara aku bermain game semalaman sampai larut, sehingga aku bangun kesiangan. Aku langsung buru-buru bersiap untuk jogging dan berharap cewek itu datang dan masih disana. Setibanya di jogging track, aku memulai untuk berlari perlahan dan pelan-pelan memperhatikan sekitar jogging track. Setelah beberapa menit melakukan scanning, mataku menangkap seseorang yang beberapa hari ini menjadi harapan terbesarku. Aku berlari menghampirinya, dan memperlambat laju lariku di beberapa meter di belakangnya. Seketika ia berhanti dan berjalan menghampiri sebuah kursi dimana ia meletakkan botol minumnya. Aku pun turut berhenti dan berjalan menghampirinya. Jantungku berdegup kencang. Aku sudah berdiri dengan jarak beberapa langkah di belakangnya ketika ia sedang meneguk minumannya....

"Hai.."



-----------------------------------------
Inspired from song: Gaze - Adhitia Sofyan
       
Monday, July 6, 2015 0 comments

Plagiarism Orthodox

Kamarku. Sabtu, 14 September 2013. 23.18

"....dan hingga pada akhirnya, hanya rindu dan penyesalan lah yang tersisa. Meninggalkan jejak yang terlanjur tak terhapus"


"Wuaaahh!! Selesai juga!" jeritku sambil menyandarkan punggung di kursi belajarku yang sangat nyaman dan sering berkhianat untuk membuatku tertidur ketika sedang mengerjakan tugas.
Ya, aku baru saja menyelesaikan satu tulisan lagi di blog milikku. Sepertinya tidak banyak yang tahu mengenai blog-ku dan membacanya, tapi aku tidak peduli, setidaknya hobiku tersalurkan dan aku bisa mengisi kebosananku dengan sesuatu yang tidak harus mengeluarkan uang dan tenaga banyak.

Aku meraih gelasku yang berisi susu cokelat kesukaanku dan meminumnya perlahan sambil membaca ulang cerita yang telah ku posting, apakah perlu perbaikan atau tidak. Sedetik kemudian, mataku beralih ke tab email. Inbox (1). Aku tersenyum. Segera aku klik tab tersebut dan membuka email yang masuk.

From: dragonheart138@jmail.com
Subj: Your New Post

As usual, you're amazing. Saya selalu suka semua ceritamu. Terimakasih ya!

Best Regards,
APS

Aku tertawa kecil. Setiap aku posting tulisan baru, pastilah orang ini yang pertama membacanya dan memberi komentar lewat email. Jelas aku tidak mengenalnya. Alamat surelnya aneh, dan ia juga hanya membubuhkan inisial namanya. Segera kubalas email tersebut.

To: dragonheart138@jmail.com
Subj: Re: Your New Post

Haha! Seharusnya saya yang bilang terimakasih. Makasih ya udah mau jadi pembaca setia blog saya!

Best Regards,
Aresta Sybil

Kantin. Selasa, 19 November 2013. 12.04.

Brukk.! Aku membanting tas ransel motif zebra milikku ke atas meja kantin.

"Astaga! Heh! Kira-kira kalo ngelempar barang! Ngagetin orang aja!" omel kekasihku, Ditya, yang sedari tadi menunduk menikmati sebuah buku yang aku yakini bukan buku yang berhubungan dengan matakuliah kami.

"Hehehe.. Sori sori. Lagian serius banget, ada bidadari cantik aja sampe ga dilirik. Baca apaan sih?" Tanyaku sambil duduk dan kemudian merebut buku yang menenggelamkan kekasihku di dalamnya. Kulihat mukanya sedikit kesal karena bukunya kurebut tiba-tiba, namun tidak marah.

Perjalanan Sang Pendusta. Aku mengernyitkan dahiku. Berat amat judulnya. Andoro Pratama S.

"Tentang apa ceritanya? Bagus?" Tanyaku sambil mengembalikan bukunya ke dia. Ia menatapku bingung. Ia mengatakan bahwa buku ini sedang booming. Seluruh linimasa membicarakannya. Aku menggeleng. Lalu ia mulai menceritakan apa yang ditulis dalam buku itu. Sejujurnya aku tidak terlalu memperhatikannya, karena aku sedang dalam kondisi lapar stadium 7 setelah menikmtai cuap-cuap dosenku selama 3 jam lamanya. Aku hanya menanggapinya dengan anggukan dan "oohh.." sambil melahap batagor kuah favoritku dengan cepat sampai-sampai mulutku penuh dan menggembung seperti marmut.

"Mau pinjam? Tapi jangan dirusak ya!" tawarnya. Sepertinya ia paham bahwa aku tidak mendengarkannya bercerita tadi. Aku mengangguk dan memasukkan buku tersebut ke dalam tas.

Kamarku. 19.38.

Seusai mandi dan makan malam, aku mengambil buku yang tadi dipinjamkan oleh Ditya. Penasaran. Aku mulai membaca halaman per halaman. Sepertiga buku sudah kubaca, namun aku merasa ada yang aneh. Aku seperti mengenal cerita dalam buku ini. Perjalanan seorang cassanova yang jatuh cinta secara tidak sengaja namun tidak mau mengaku. Di pertengahan buku, aku menyadari sesuatu. Aku langsung melompat keluar dari tempat tidurku dan menyalakan laptopku. Ini tulisanku! Seluruh isi yang ada di buku ini adalah seluruh tulisanku di blog! Aku membolak balikkan halaman buku itu sambil terus scrolling blogku. Mataku dengan liar berpindah-pindah ke buku dan blogku. Sama persis! Bahkan nama, setting tempat, gaya penulisan. Semuanya sama persis! Aku kaget bukan main. Andoro Pratama S. Aku membaca nama penulisnya. Mengulang-ulang namanya dalam kepalaku. Seperti tidak asing.

Brengsek!

Rabu, 20 November 2013. 02.58

Jelas aku tidak bisa tidur. Aku cemas menunggu email balasan dari makhluk itu. Tab browser-ku tidak pernah berpindah dari display inbox emailku. Lalu aku mengambil buku tersebut dan membuka halaman paling belakang. Ada ID twitternya! Tanpa berpikir panjang, aku langsung membuka akunku dan menerornya lewat twitter. Meminta penjelasan dan pertanggung jawaban atas perbuatannya dalam menjiplak karyaku tanpa ijin. Satu jam. Dua jam. Masih tidak ada tanggapan hingga akhinya aku tertidur karena kelelahan.

09.12

Aku terbangun di kursi belajarku. Laptopku mati, kehabisan baterai. Setelah laptop kusambungkan ke listrik, aku mengecek hapeku yang tergeletak manis di kasur. Mataku terbelalak. 

"128" 

Itulah angka yang kulihat menempel di icon twitterku. Aku langsung menyalakan laptopku dan membukanya melalui web browser.

@kristanova: "@arestasybil HAHA! tersangka plagiat aja ngaku2 jadi korban plagiarisme! Ngiri ya? apa sinting?!"

Hah?! Apa apaan nih?! Aku terus scrolling tab mention-ku kebawah. Isinya hujatan semua! Hujatan bahwa aku yang menjiplak karya Andoro. Aku kesal. Marah. Sangat marah. 

@AndoroPratama: "Semalam ada yang meneror saya, mengatakan bahwa saya menjiplak karya dia. Sesungguhnya pernyataan itu adalah kebohongan besar. Buku yang saya terbitkan adalah murni karya saya sendiri.."

blablablabla...

@AndoroPratama: "oleh karena itu kpd sdri @arestasybil kami terpaksa mem-banned blog anda karena telah melakukan penjiplakan karya orang lain yang dipatenkan tanpa ijin"

WHAT?! BANNED?! Aku langsung mengetik alamat blogku dan menekan tombol Enter di laptopku.

SITUS DIBLOKIR! Situs yang hendak anda buka kemungkinan termasuk ke dalam situs yang tidak boleh diakses, karena terindikasi mengandung salah satu daftar Blacklist Depkominfo yaitu unsur: Pornografi, konten kekerasan, konten yang terkait dengan intoleransi rasial atau advokasi melawan individu, kelompok, atau organisasi manapun, dan konten yang ilegal, mempromosikan aktivitas ilegal, atau melanggar hak legal orang lain.

Aku lemas. Badanku bergetar hebat menahan kesal yang amat sangat. Tanpa kusadari, air mataku sudah mengalir. Aku langsung lompat ke tempat tidur, menenggelamkan mukaku ke bantal dan menangis sejadinya. Berteriak sekencang mungkin. Aku sangat marah. Aku tidak masuk kuliah hari itu. Ditya mencariku melalui messenger. Khawatir. 

13.02.

Aku mencari strategi yang tepat untuk menghancurkannya. Mempermalukan keluarganya. Aku teringat sesuatu. Verdi. Dia teman SMA-ku yang sekarang bekerja di Cyber Terror Response Centre, Jakarta. Aku menelponnya, mengatakan bahwa aku sedang menuju kantornya dan meminta waktunya sebentar untuk bertemu. Setelah ia menyetujuinya,aku langsung mengambil kunci mobilku dan melajukan mobilku dengan cepat. 

"Percayalah, Andoro, akan kubuat kau menyesal dilahirkan.."
Monday, April 27, 2015 0 comments

Friends With Benefit

"Gue udah di depan kosan lu nih, keluar dong.."

Ck.. aku menolak pada awalnya, kepalaku sangat berat. Namun, dia memaksaku karena ia ragu, Akhirnya aku mengiyakan permintaannya.

"Hai.. Aku D"
"A" jawabku singkat.

Kami memang baru pertama kali bertemu dan saat itu aku sedang terkena flu. Awal pertemuan kami memang agak canggung, namun ia membuka suasana dengan menawarkan film dari harddisk yang ia bawa. Karena aku sedang terkena flu, kepalaku terasa sangat berat dan aku memilih mengiyakan tawarannya sambil berbaring di kasurku. Tidak kusangka, ia malah ikut berbaring di sisiku. Aku langsung menggeser posisiku sedikit menjauh darinya. Dan kami menonton film yang diputar itu dalam diam. Seketika ia memelukku. Aku hanya diam tidak bereaksi. Namun itu kulakukan hanya dalam waktu beberapa menit hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekatkan diriku padanya dan membalas peluknya.Perlahan ia mengecup pipi dan mengusapnya dengan lembut. Aku hanya menutup mataku karena memang saat itu aku merasa tidak begitu sehat. Karena mataku yang terpejam, tanpa kusadari bibirnya mengecup bibirku, namun aku memberikan sedikit perlawanan, menandakan bahwa aku belum siap untuk kissing, apalagi dengan orang yang baru ku kenal.

Karena sudah malam, kemudian ia pamit untuk pulang ke rumahnya dan aku langsung tertidur lelap. Dan keesokan harinya kami mulai sering bertukar pesan untuk sekedar memberi kabar masing-masing.

2 Hari Setelah Pertemuan Pertama - Kosanku

"Dingin.." kataku.

"Iya tau. Ikutan dong.."

Ia sudah tidak canggung lagi, langsung ia memelukku dan aku menatap lekat matanya. Ia juga menatapku dan kembali mengecup bibirku. Kali ini tanpa perlawanan. Tangannya perlahan menuju arah tubuhku. Aku sedikit menahannya, aku tidak mau terburu-buru. Hingga pada akhirnya kubiarkan tangannya menjelajah tubuhku, menyentuh bagian tersensitifku, dan aku hanya bisa menikmatinya.

I'm still a virgin. Pikirku, dan aku memepertahankannya.

Aku mulai mencari-cari informasi tentangnya. Sosial medianya di-lock semua. Ugh.. Aku mulai kesal, namun, aku teringat sesuatu. Dari temanku, yang juga ternyata teman dekatnya, aku dapat informasi yang cukup membuat dadaku sesak. Ia sudah punya pacar, dan jadiannya pun sudah lama. Kenapa dia tidak pernah mengatakannya padaku? Kenapa dia tidak pernah cerita? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Pertanyaan yang sama yang selalu menghantui kepalaku. Sakit? Ya. Kesal? Marah? Entahlah.

Seminggu Kemudian

Aku: Boleh ku tanyakan sesuatu?

Dia: *terdiam*

Aku: Apakah kamu merasa ini sesuatu yang salah? Kamu sudah punya kekasih, but, we did wild evening, cukup sering. Dan cukup jauh. Memang tidak sejauh itu, namun..

Dia: Aku sudah mengira kamu akan menanyakan hal ini, Maaf jika aku membuatmu sakit. Aku pun dari awal tidak pernah berpikiran untuk sejauh ini. Seperti yang kamu tahu, aku dan dia pun sedang dalam hubungan yang ya kita katakan tidak cukup sehat,

Aku: Kau menjadikanku pelarian kamu?

Dia: Ah! Tidak, bukan seperti itu. Bahkan aku tidak terpikir untuk sampai situ. Hanya saja aku suka, aku senang berteman denganmu. Maaf.

Aku: Kalau kau suka berteman denganku, kenapa kamu tidak pernah cerita? Jadi aku tidak perlu penasaran dan mencari-cari informasi tentangmu dan menemukan hal yang....

Dia: Maaf. Aku hanya belum siap bererita. Aku harap ini bukan terakhir kalinya kita bertemu. Aku senang berteman denganmu. Kamu menjadi penyemangat tugas akhirku.. Makan malam yuk, nanti kuceritakan tentang diriku, semuanya.. *tersenyum*

-----------------------------------------

Disclaimer: Ditulis ulang dari sebuah cerita nyata seseorang di sebuah sosial media, dipublikasikan dengan revisi seperlunya dan menggunakan gaya tulis penulis.

Monday, April 13, 2015 0 comments

Smile

"Smiling is my favorite, you make me smile, that makes you my favorite..."

Senyum. Kegiatan yang dalam sehari bisa ratusan kali kita lakuin. Tenang, aku nggak akan bahas manfaat senyum bagi kesehatan tubuh atau berapa otot yang dipakai saat kita tersenyum. Kalian bisa liat itu di dr. Oz Indonesia. Aku sendiri suka banget senyum. Ya bukan berarti aku suka senyum-senyum sendiri tanpa alasan. Di dunia nyata, ataupun sekedar titik dua tutup kurung di dunia maya, menurutku senyum itu tampilan ekspresi paling simple yang seenggaknya bisa dilakuin untuk buat orang merasa lebih baik (sok tau :p). Kalian mungkin gak sadar kalo senyum kalian bisa berarti banyak buat orang disekitar kalian.

Entah bagaimana dengan kalian, tapi aku, saat aku melihat orang tersenyum, aku langsung mengalami apa yang dinamakan ‘Premature Ventricular Contractions’ atau 'heart skips a beat' kalo katanya Natalie Portman ke Ashton Kutcher di No Strings Attached. Dan secara otomatis, kedua ujung bibir ini langsung melengkung untuk bales senyuman itu.

The power of : Senyum. 

Aku mempercayainya. Saat aku tersenyum, aku merasa seperti mengirimkan kekuatan untuk orang yang aku senyumin. Tidak destruktif, tapi menyegarkan. Harus ku akui, aku hampir selalu jatuh cinta dengan perempuan yang pernah tersenyum padaku (playboy? iya memang. Darahku AB. Nanti ku ceritakan). Klise, tapi seperti yang kubilang sebelumnya, aku mempercayai The Power Of Senyum.  Ada pesan didalamnya, ada kekuatan didalamnya. Ada dukungan, ada harapan, ada ada aja. Yang jelas, aku suka setiap senyum yang kalian berikan.

Namun, nggak ada yang lebih aku cintai dari senyum di wajah orangtuaku. Seakan aku bisa melakukan segalanya. Termasuk terbang dengan meloncat dari atap rumahku (tentu saja tidak kulakukan. Ayolah, ini hanya kiasan!). Aku tidak pernah membayangkan jika senyuman itu hilang. Lalu senyum kalian, kalian yang selalu ada di setiap kejahatan yang pernah aku lakukan (iya biar kesannya gue ga jahat sendirian gitu.. *evil laugh* ). Tapi percayalah, aku sayang kalian dan senyuman kalian yang selalu aku tunggu setiap harinya. Hanya untuk memastikan kalian baik-baik saja.

Hingga pada akhirnya, kutemukan satu senyuman. Senyuman yang datang tak tahu waktu, senyuman paling teduh dan menyenangkan yang pernah ku lihat. Kamu.

------------------------------------
Disclaimer: Bukan tulisan saya, ini tulisan milik seseorang, dengan revisi seperlunya.

Rewrite from: payungrindu.blogspot.com
Original Writer: Aby Rifiana
Saturday, April 11, 2015 0 comments

Percaya Sama Aku



"Kenapa kamu cinta sama aku?"

Matanya yang bulat membesar, menunjukkan ekspresi ingin tahu dan jawaban yang memuaskan dariku. Aku menatapnya lekat, 

"kau yakin ingin aku menjawabnya? Bukankah cinta tidak butuh penjelasan?"

Meskipun bibir indahnya mengatup rapat, matanya yang membulat memaksaku untuk mengatakannya. Aku berguling, berbaring di sisinya. Ia memutar posisi tidurnya, miring ke arahku..

"Baiklah akan kujelaskan. Begini, aku bahkan tidak tahu apa yang membawaku padamu. Aku percaya takdir. Kita bertemu, dengan keadaan masing-masing sakit hingga tidak percaya lagi dengan cinta. Aku ingin menyembuhkan lukamu, dan kau pun telah menyembuhkan ku. Aku tidak bisa mengatakan apakah ini cinta atau bahkan lebih dari itu. Yang jelas aku mau kamu, nyata, bukan hanya dalam khayalku"

Kepalaku menengok, menatapnya. Tatapan matanya mengisyaratkan bahwa ia cukup puas dengan jawabanku. Bibir mungilnya tersenyum tipis dan sangat manis. Aku mendorongnya, mengembalikannya ke posisi terlentang dan aku diatasnya. Menatapnya dalam, tersenyum, dan mengecup keningnya, bibirnya dengan lembut, dan perlahan kubuka kancing seragam SMA-nya satu per satu. Tatapan matanya berubah, sedikit panik dan takut.

"Percaya sama aku.."

Dan kasur hotel mulai berdecit lembut seirama dengan gerakan kami.

----------------------------------------

12.04.2014 - Kamar apartemen 2712

Seorang laki-laki muda, berumur sekitar 24 tahun, memiliki kulit putih dan tinggi sekitar 182 cm dengan badan yang tidak terlalu kekar namun berbentuk, serta warna mata coklat muda, berdiri di dekat jendela, menatap ke luar kamarnya, dengan lima orang temannya, kurang lebih berumur sama dengannya, duduk di sofa dengan santai .

"Aku mendapatkannya" ucapnya sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

"buktinya?" tanya seorang temannya yang duduk tidak jauh darinya.

Ia mmemberikan dua buah kamera DSLR, "Yang satu gue setting video, yang satu lagi gue setting untuk motret setiap 1 menit sekali"

Teman-temannya mengecek isinya, tersenyum dengan puas dan memujinya.

"Sekarang sesuai perjanjian, 10 juta dari masing-masing kalian" Ucapnya sambil berjalan ke tempat sampah, membuang simcard yang baru saja ia patahkan dengan sengaja.
Wednesday, April 8, 2015 0 comments

Kursi Kosong


Source: Dokumen Pribadi
Sampe Kapan...?

"A glass of Chocolates Shake. With an empty chair"
 Tulisku di sebuah media sosial yang kupilih untuk memamerkan kesukaanku, cokelat dan membanggakan kesendirianku saat itu, di sebuah coffee shop Central Park, Jakarta. Sejujurnya aku tidak benar-benar sendirian, aku menemani ibuku bertemu dengan mitra kerjanya, namun karena aku tidak (mau) peduli dengan urusannya, aku memilih untuk berpisah meja. Orang-orang yang melintas disekitar kafe menatapku sepintas, dan orang-orang di dalam kafe beberapa kali memperhatikanku.

"Kenapa? Belum pernah liat cewek duduk sendirian di coffee shop? Huh!" dengusku dalam hati.

Sekelebat namun pasti, sebuah pertanyaan yang sangat mengganggu santaiku saat itu sampai sekarang,

"Mau sampe kapan kursi depan lo kosong terus? Udah setahun loh.."
(Damn brain! Baru sebelas bulan kok!)

Hingga akhirnya aku berpikir. Iya ya, kapan ya terakhir gue duduk berdua berhadapan, bercanda, berbicara dari hati ke hati, menggenggam masing-masing tangan, berharap untuk tidak pergi meninggalkan. Aku meraih hapeku diatas meja. Membuka salah satu aplikasi messangger dan terpaku pada satu nama,

Antoni.

Ragu, namun, "Hai.. Kamu apa kabar? Sudah lama kita tidak menikmati dua gelas kopi yang berbeda dalam satu meja. Masih sibuk?" meluncur begitu saja dari jemariku.

10 menit
30 menit
1 jam

21.19 - Angka yang kulihat di jam tangan Baby-G biru butut kesayanganku, bersamaan dengan ibuku memanggilku untuk bersiap pulang. Kembali kutatap layar handphone-ku, sepi. Tidak ada tanda pesan atau apapun yang masuk ke hapeku.

Sudahlah, peduli apa? Aku menikmati kursi depanku tetap kosong kok, pikirku saat itu, sambil beranjak dari kursi dan meninggalkan coffee shop yang mulai sepi pengunjung.


-----------

20.32 - Di sebuah kamar...

"hai.. aku baik. Kamu apa kabar? Ah iya, sudah lama ya...." Ah shit... *delete message*

"Hai.. aku baik kok, Kamu apa kabar? Dua gelas kopi? Seingatku kamu tidak pernah suka kopi. Kamu selalu memesan cokelat.... hahaha.." *terdiam lama* *delete*


*melempar hape ke sisi lain kasur* Antoni, you're an idiot. i hate you.
Monday, April 6, 2015 0 comments

Bandung Lautan Asmara

Tiba -tiba gue teringat sebuah percakapan absurd dengan seorang teman beberapa minggu yang lalu melalui sebuah messanger. (Sebenernya sih ketemu langsung, cuma kalo dikasi tau tempatnya, trus kalian tau gue anak mana trus tiba-tiba minta traktir kan males)

(demi kenyamanan bersama, kita namakan orang ini Komo)

Komo  : Res, Bandung punya stadion baru yak?
Gue     : Hah? Iyah. Baru kelar, tapi udah sempet dipake kalo gasalah. Gatau sih, gue kan gasuka nonton bola..
Komo  : Namanya apaan? Stadion Bandung?
Gue     : Bukan lah. Ga kreatif amat. Namanya GBLA. Gelora BLA
Komo  : Gelora BLA?
Gue     : Ho-oh.. Gelora Bandung Lautan Asmara
Komo  : Ooohh..

(diam sepersekian detik)

Komo  : Res, itu bukannya judul film bokep ya? Bandung Lautan Asmara?
Gue     : hah? LAUTAN API.! Gelora Bandung Lautan Api.! Hahahah! Maapin maapin!
Komo  : -___- (mungkin kira kira begini ekspresi dia) Bego.

-------------

Karena nama yang tertulis di blog ini adalah inisial namaku, ARS, maka kupanggil diriku Ares :))
Wednesday, April 1, 2015 0 comments

Cassanova

"There's No Love, only LUST"


Cassanova. Aku yakin kau sering mendengarnya dan bahkan tahu sejarahnya. Tidak? Baiklah, ku tuturkan sedikit tentangnya. Cassanova, atau Giacomo Cassanova, adalah seorang penulis, penyair, pemikir, dan tentu saja seorang petualang cinta. Petualang cinta yang seru dan penuh gairah. Ia adalah seorang perayu ulung, ia bahkan mampu menggoda biarawati asal Venesia dan beberapa perempuan bangsawan di Eropa. Namun dari yang kudengar, petualangannya berakhir dengan patah hati yang mendalam saat harus berpisah dengan wanita bersuami yang sangat dicintainya.

Baiklah, ini bukan cerita tentang Giacomo, tapi tentang aku. Aku adalah seorang Cassanova. Versi perempuan. Ya setidaknya aku (dan orang orang sekitarku) menganggap diriku seperti itu. Sejak umurku 14 tahun, aku sudah mengenal apa yang biasa disebut orang "Kekasih". Namun mereka bilang itu hanya cinta monyet, sayangnya, aku tidak pernah percaya cinta. Lebih tepatnya, aku belum mengenal cinta. Saat itu yang aku kejar hanyalah popularitas. Ya, popularitas dan reputasiku sebagai seorang anak sekolah menengah pertama yang memiliki tujuh orang kekasih, yang rata-rata berumur 17-20 tahun. Aku bukan berselingkuh, aku hanya membantu memberikan mereka kebahagiaan setelah mereka tersakiti, yang secara kebetulan bukan hanya satu orang (alasan macam apa itu?!). Walaupun mereka memang tidak bertahan lama, aku menikmatinya. 

Ya, menikmatinya. Hingga aku (menganggap diriku) beranjak dewasa, tahun terakhir di sekolah menengah atas-ku, aku menemukan seseorang. Yang kurasa melengkapi diriku sendiri, yang mampu mendukungku dan membimbingku. Bahkan orangtuaku memepercayai dia. Aku berpikir, ah, seorang pemain cinta harus berhenti. Namun ternyata sang Pemain Cinta bertemu Pemain Cinta lainnya. Tersekiti? Tidak. Hanya kesal. Then i realized that what i looking for wasn't LOVE, it was LUST, a CHECKLIST. Hahahaha.. Dari situ aku mulai tidak percaya cinta. Selama ini yang aku jalani dan percaya hanyalah Lust. Dengan siapapun itu.

Hingga akhirnya aku (merasa benar-benar) beranjak dewasa. Aku bertemu denganmu, entah jawaban dari doaku, entah cuma numpang lewat. Tapi ajaibnya kamu, belum apa-apa, namamu sudah masuk ke dalam sujud malamku, tanpa kamu sadari. Berharap kamu bisa membuatku percaya cinta. Tapi kalo kamu datang hanya untuk membuatku lebih percaya LUST, yasudah, berarti petualanganku belum berakhir. Begitu juga dengan tulisan ini,
0 comments

Switch

Sudah hampir setahun lebih aku hanya bisa memandangi laki-laki pribumi itu. Ia sangat mirip dengan kekasihku dulu, sampai aku sempat berpikir bahwa reinkarnasi benar-benar ada. Tapi, entah mengapa, ia selalu bersama gadis berambut hitam bergelombang itu. Apa yang membuat laki-laki pribumi itu tertarik pada gadis yang cuek dan galak itu? Huh! Enak sekali gadis itu, selalu didampingi laki-laki pribumi itu, sedangkan aku? Aku lebih cantik, keturunan Belanda, tapi hanya bisa memandangnya dari jendela ini. Aku ingin sekali memiliki laki-laki itu, tapi aku tidak tahu caranya. Seandainya dulu ayah tidak membunuh kekasihku, aku juga pasti tidak akan menggantung diriku di pohon Oak belakang rumahku dan menjadi hantu gentayangan seperti ini.

Aku bertemu dengan gadis itu di ruang musik. Dia cukup mahir memainkan piano yang ada di ruangan tersebut. Apakah laki-laki pribumi itu menyukainya karena ia bisa main piano? Ah, aku juga bisa. Aku juga sempat belajar piano dan sampai sekarang suka memainkannya jika sekolah ini sudah sepi. Tapi aku akui, permainan pianonya memang lebih pandai dariku.

Aku telah mendapat cara bagaimana mendapatkan laki-laki pribumi itu. Bukan, bukan membunuhnya. Tapi, aku akan bertukar tempat dengan gadis itu. Aku hanya menginginkan raganya agar aku bisa menyentuh dan hidup bersama dengan laki-laki itu. Aku mulai mengganggu gadis itu dalam mimpinya sampai ia melemah dan tidak mampu membedakan mimpi dengan kenyataan. 


"Aku selalu bermimpi buruk akhir-akhir ini. Aku takut. Seperti ada yang mengawasiku melalui cermin ketika aku tidur". Laki-laki pribumi itu pun mulai khawatir dengan keadaan gadis itu dan berusaha menenangkannya.

Hingga pada suatu saat,

"Kau terlihat riang hari ini. Semalam tidak bermimpi buruk lagi?".

 Gadis dengan rambut hitam dan bergelombang di sampingnya hanya tersenyum, memamerkan lesung pipinya yang hanya ada di sebelah kanan 

"mimpi buruk? Apa yang kau bicarakan?" sambil tertawa kecil. 

Dan aku, menikmati raga baruku yang dapat menyentuh laki-laki ini, aku menatap cermin, ada orang lain dalam pantulannya. Berambut pirang dan bermata biru tengah tersenyum penuh arti seakan mengetahui bahwa di dalam cermin itu ada pemilik tubuh yang telah diusir secara paksa.
Friday, February 13, 2015 0 comments

Filosofi Cokelat

Entah karena nggak suka kopi, atau filosofi kopi sudah terlalu sering, maka ku ibaratkan kisah hidup dan cinta ku seperti segelas cokelat. Panas atau dingin, tetaplah cokelat. Yang menyenangkan dan menenangkan. Pahit ataupun manis, tetap bisa menenangkan kelenjar airmata mu untuk tidak memuntahkan isinya.

Cokelat. Entah itu minumannya atau cokelat yang telah diolah. dicampur dengan susu dan buah buahan potong lainnya hingga berbentuk bars, berasal dari biji cokelat atau biji kokoa, jangan pernah sangkal bahwa cokelat mampu menenangkanmu. Apalagi ketika melumer dan lelehannya menghiasi sekitar bibirmu, yang biasa kita namakan, belepotan. Ada kesenangan tersendiri bukan?

Takut gendut karena cokelat? Ah, sudahlah, kau pilih sakit hati bertahun-tahun atau gendut sebulan?
Friday, January 23, 2015 0 comments

Arjuna Hina

      Pada suatu dinasti, hiduplah seorang pria bernama Hadi Setiawan Ahmad, masyarakat lebih sering memanggilnya Aji. Aji (sering) dianggap Grim Reaper atau malaikat pencabut nyawa yang dalam mitologi Yunani berarti sosok kerangka manusia yang membawa sabit/celurit untuk mencabut nyawa seseorang. Sesuai dengan perawakannya, Aji memang hanya terdiri tidak lebih dari kerangka yang berjalan. Tertatih tanpa tujuan. 

     Aji terlihat seperti sesosok manusia biasa, dengan kehidupan yang normal pada umumnya. Kecuali kehidupan asmaranya. Ia selalu gagal. Berbeda dengan sodaranya, Pesal. Pesal adalah bidadara bagi semua wanita. Sekali Pesal senyum, terkadang keluar brownies atau cupcake dari hidungnya sehingga Pesal akan dengan mudahnya menggaet cewek. Hingga pada suatu hari, ada seseorang yang menyarankan Aji untuk mencoba tersenyum agar kehidupan asmaranya berjalan lancar. Namun, tahukah bahwa ada sebuah keistimewaan dalam diri Aji yang tidak orang ketahui? Aji adalah benar-benar seorang Grim Reaper, senyumannya membawa maut/dekat dengan maut, sehingga ada pepatah, "Jika ada warga yang meninggalnya susah, maka panggillah Aji dan minta ia untuk senyum".

       Sejatinya, Aji adalah seorang Grim Reaper. Yang gagal. Hampir gagal. Aji adalah Grim Reaper tanpa sayap hitamnya yang mengembang gagah seperti teman-temannya. Sayapnya disita, karena ia melakukan sebuah kesalahan fatal, yaitu menunggu seseorang yang terpejam lama untuk dicabut nyawanya, padahal nyawa orang tersebut sudah dicabut oleh temannya. Hingga pada akhirnya, Aji hanyalah Grim Reaper yang hanya berbaju serba hitam, dengan celurit ditangannya. Tanpa sayap. Ada sebuah cerita menyedihkan tentangnya, yang terjadi beberapa hari yang lalu..

Pada suatu hati, Aji sedang berjalan menyusuri trotoar yang usang dan berdebu di daerah kota Bogor. Kemudian ia mendapat pesan bahwa ada nyawa yang harus dicabut olehnya karena kecelakaan di Manggarai, karena teman-teman yang lain sedang sibuk, maka ia yang diminta untuk ke Manggarai. Berhubung ia tidak memiliki sayap, maka ia memilih untuk naik bajai ke Manggarai. 
"Bang, Manggarai bang.. Ada yang kecelakaan, mau saya cabut nyawanya". Kemudian ia masuk ke dalam bajai, duduk tertunduk sambil memegangi celurit kesayangannya. Setibanya di Manggarai, ia turun dari Bajai dan menghampiri orang yang hendak dicabut nyawanya tersebut. Namun tak disangka, orang tersebut melihat Aji turun dari bajai dan memohon untuk nyawanya dicabut oleh Grim Reaper yang lain. Orang itu beralasan ketika Aji turun dari bajai, badannya bergetar hebat. Aji terkena Bajai-lag.

      Sekarang Aji telah dipensiunkan menjadi Grim Reaper. Dengan kehidupan asmaranya yang belum membaik, Aji terduduk di sebuah gerbong kereta. Ia bertemu dengan cewek yang sangat cantik. Model Victoria's Secret. Ia teringat kata-kata temannya, selain senyum, Aji harus pasrah. Akhirnya Aji tersenyum ke wanita tersebut dan dari jarak 5 meter, ia menggelepar di lantai kereta api, memasrahkan dirinya kepada wanita tersebut, dan berteriak dengan homonya, "Datanglah padaku, aku memasrahkan diriku..". Kemudian seekor bencong menghampirinya, "AKU PADAMUU MASSHH.." dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya.

Wanita itu, sudah jangan ditanya, ia seketika menenggak baygon setelah disenyumin oleh Aji.

-The End-

(This weird short story was dedicated for my friend and my ex-crush, Aji. LOL)


Tuesday, January 6, 2015 0 comments

Creepy Hide and Seek

"Now, you're the tagger.."

Kali ini saya akan mengajak kalian untuk bermain. Permainan ini sangat mudah dan cukup "menyenangkan". Tidak perlu banyak orang untuk memainkannya, hanya kau, dan "sahabat" mu Peralatan yang diperlukan cukup mudah. Kau hanya memerluka sebuah boneka, beras, potongan kuku/rambut, pisau, benang berwarna merah, jarum, air, dan garam.

Ayo kita mulai...

Pertama, pastikan kau bermain pukul 3 pagi, karena pada jam itulah akan ada yang menemanimu bermain, matikan seluruh lampu dan kau harus sendirian. Nyalakan televisi ke channel yang sudah tidak menayangkan programnya sehingga hanya ada gambar "semut" yang terpampang di televisimu.

Kedua, siapkan segelas air dan campurkan dengan garam.

Ketiga, sobek perut bonekamu menggunakan pisau dan keluarkan isinya. Kemudian ganti isi boneka tersebut dengan beras dan potongan rambut/kuku. Kemudian, jahit menggunakan benang berwarna merah dan lilitkan ke sekujur bonekamu. Berikan bonekamu sebuah nama.

Keempat, nyalakan keran di bak mandi atau wastafel hingga air tersebut memenuhi bak mandimu. Kemudian katakan kepada bonekamu, "sekarang aku yang jaga, (nama bonekamu) yang bersembunyi" dan masukkan bonekamu ke dalam bak mandi yang sudah terisi air.

Kelima, kelilingi lah seluruh rumahmu dengan tujuan akhir kamar mandi dimana kau meninggalkan bonekamu, kemudian katakan, "aku menemukanmu, (nama bonekamu)" kemudian tusuklah bonekamu menggunakan pisau.

Keenam, katakan "sekarang (nama bonekamu) yang jaga, aku bersmebunyi". Masukkan kembali bonekamu ke dalam bak mandi dan bersembunyilah. Kali ini jangan lupa untuk membawa gelas berisi air garam yang telah kau siapkan tadi. Nikmatilah apa yang terjadi saat kau bersembunyi.

 
;