"....dan hingga pada akhirnya, hanya rindu dan penyesalan lah yang tersisa. Meninggalkan jejak yang terlanjur tak terhapus"
"Wuaaahh!! Selesai juga!" jeritku sambil menyandarkan punggung di kursi belajarku yang sangat nyaman dan sering berkhianat untuk membuatku tertidur ketika sedang mengerjakan tugas.
Ya, aku baru saja menyelesaikan satu tulisan lagi di blog milikku. Sepertinya tidak banyak yang tahu mengenai blog-ku dan membacanya, tapi aku tidak peduli, setidaknya hobiku tersalurkan dan aku bisa mengisi kebosananku dengan sesuatu yang tidak harus mengeluarkan uang dan tenaga banyak.
Aku meraih gelasku yang berisi susu cokelat kesukaanku dan meminumnya perlahan sambil membaca ulang cerita yang telah ku posting, apakah perlu perbaikan atau tidak. Sedetik kemudian, mataku beralih ke tab email. Inbox (1). Aku tersenyum. Segera aku klik tab tersebut dan membuka email yang masuk.
From: dragonheart138@jmail.com
Subj: Your New Post
As usual, you're amazing. Saya selalu suka semua ceritamu. Terimakasih ya!
Best Regards,
APS
Aku tertawa kecil. Setiap aku posting tulisan baru, pastilah orang ini yang pertama membacanya dan memberi komentar lewat email. Jelas aku tidak mengenalnya. Alamat surelnya aneh, dan ia juga hanya membubuhkan inisial namanya. Segera kubalas email tersebut.
To: dragonheart138@jmail.com
Subj: Re: Your New Post
Haha! Seharusnya saya yang bilang terimakasih. Makasih ya udah mau jadi pembaca setia blog saya!
Best Regards,
Aresta Sybil
Kantin. Selasa, 19 November 2013. 12.04.
Brukk.! Aku membanting tas ransel motif zebra milikku ke atas meja kantin.
"Astaga! Heh! Kira-kira kalo ngelempar barang! Ngagetin orang aja!" omel kekasihku, Ditya, yang sedari tadi menunduk menikmati sebuah buku yang aku yakini bukan buku yang berhubungan dengan matakuliah kami.
"Hehehe.. Sori sori. Lagian serius banget, ada bidadari cantik aja sampe ga dilirik. Baca apaan sih?" Tanyaku sambil duduk dan kemudian merebut buku yang menenggelamkan kekasihku di dalamnya. Kulihat mukanya sedikit kesal karena bukunya kurebut tiba-tiba, namun tidak marah.
Perjalanan Sang Pendusta. Aku mengernyitkan dahiku. Berat amat judulnya. Andoro Pratama S.
"Tentang apa ceritanya? Bagus?" Tanyaku sambil mengembalikan bukunya ke dia. Ia menatapku bingung. Ia mengatakan bahwa buku ini sedang booming. Seluruh linimasa membicarakannya. Aku menggeleng. Lalu ia mulai menceritakan apa yang ditulis dalam buku itu. Sejujurnya aku tidak terlalu memperhatikannya, karena aku sedang dalam kondisi lapar stadium 7 setelah menikmtai cuap-cuap dosenku selama 3 jam lamanya. Aku hanya menanggapinya dengan anggukan dan "oohh.." sambil melahap batagor kuah favoritku dengan cepat sampai-sampai mulutku penuh dan menggembung seperti marmut.
"Mau pinjam? Tapi jangan dirusak ya!" tawarnya. Sepertinya ia paham bahwa aku tidak mendengarkannya bercerita tadi. Aku mengangguk dan memasukkan buku tersebut ke dalam tas.
Kamarku. 19.38.
Seusai mandi dan makan malam, aku mengambil buku yang tadi dipinjamkan oleh Ditya. Penasaran. Aku mulai membaca halaman per halaman. Sepertiga buku sudah kubaca, namun aku merasa ada yang aneh. Aku seperti mengenal cerita dalam buku ini. Perjalanan seorang cassanova yang jatuh cinta secara tidak sengaja namun tidak mau mengaku. Di pertengahan buku, aku menyadari sesuatu. Aku langsung melompat keluar dari tempat tidurku dan menyalakan laptopku. Ini tulisanku! Seluruh isi yang ada di buku ini adalah seluruh tulisanku di blog! Aku membolak balikkan halaman buku itu sambil terus scrolling blogku. Mataku dengan liar berpindah-pindah ke buku dan blogku. Sama persis! Bahkan nama, setting tempat, gaya penulisan. Semuanya sama persis! Aku kaget bukan main. Andoro Pratama S. Aku membaca nama penulisnya. Mengulang-ulang namanya dalam kepalaku. Seperti tidak asing.
Brengsek!
Brengsek!
Rabu, 20 November 2013. 02.58
Jelas aku tidak bisa tidur. Aku cemas menunggu email balasan dari makhluk itu. Tab browser-ku tidak pernah berpindah dari display inbox emailku. Lalu aku mengambil buku tersebut dan membuka halaman paling belakang. Ada ID twitternya! Tanpa berpikir panjang, aku langsung membuka akunku dan menerornya lewat twitter. Meminta penjelasan dan pertanggung jawaban atas perbuatannya dalam menjiplak karyaku tanpa ijin. Satu jam. Dua jam. Masih tidak ada tanggapan hingga akhinya aku tertidur karena kelelahan.
09.12
Aku terbangun di kursi belajarku. Laptopku mati, kehabisan baterai. Setelah laptop kusambungkan ke listrik, aku mengecek hapeku yang tergeletak manis di kasur. Mataku terbelalak.
"128"
Itulah angka yang kulihat menempel di icon twitterku. Aku langsung menyalakan laptopku dan membukanya melalui web browser.
@kristanova: "@arestasybil HAHA! tersangka plagiat aja ngaku2 jadi korban plagiarisme! Ngiri ya? apa sinting?!"
Hah?! Apa apaan nih?! Aku terus scrolling tab mention-ku kebawah. Isinya hujatan semua! Hujatan bahwa aku yang menjiplak karya Andoro. Aku kesal. Marah. Sangat marah.
@AndoroPratama: "Semalam ada yang meneror saya, mengatakan bahwa saya menjiplak karya dia. Sesungguhnya pernyataan itu adalah kebohongan besar. Buku yang saya terbitkan adalah murni karya saya sendiri.."
blablablabla...
@AndoroPratama: "oleh karena itu kpd sdri @arestasybil kami terpaksa mem-banned blog anda karena telah melakukan penjiplakan karya orang lain yang dipatenkan tanpa ijin"
WHAT?! BANNED?! Aku langsung mengetik alamat blogku dan menekan tombol Enter di laptopku.
SITUS DIBLOKIR! Situs yang hendak anda buka kemungkinan termasuk ke dalam situs yang tidak boleh diakses, karena terindikasi mengandung salah satu daftar Blacklist Depkominfo yaitu unsur: Pornografi, konten kekerasan, konten yang terkait dengan intoleransi rasial atau advokasi melawan individu, kelompok, atau organisasi manapun, dan konten yang ilegal, mempromosikan aktivitas ilegal, atau melanggar hak legal orang lain.
Aku lemas. Badanku bergetar hebat menahan kesal yang amat sangat. Tanpa kusadari, air mataku sudah mengalir. Aku langsung lompat ke tempat tidur, menenggelamkan mukaku ke bantal dan menangis sejadinya. Berteriak sekencang mungkin. Aku sangat marah. Aku tidak masuk kuliah hari itu. Ditya mencariku melalui messenger. Khawatir.
13.02.
Aku mencari strategi yang tepat untuk menghancurkannya. Mempermalukan keluarganya. Aku teringat sesuatu. Verdi. Dia teman SMA-ku yang sekarang bekerja di Cyber Terror Response Centre, Jakarta. Aku menelponnya, mengatakan bahwa aku sedang menuju kantornya dan meminta waktunya sebentar untuk bertemu. Setelah ia menyetujuinya,aku langsung mengambil kunci mobilku dan melajukan mobilku dengan cepat.
"Percayalah, Andoro, akan kubuat kau menyesal dilahirkan.."

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact